Drs. Zainuddin, M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

VONIS MATI DAN CATATAN DARI LANGIT

Kadang, kita menganggab mati dan kematian itu misteri. Kenapa dianggap misteri krn tidak seorangpun tau kapan kematian itu menjemput kita. Karena jadwal kematian itu tdk pernah diberitaukan kapan datangnya. Maka sebahagian dari kita mengganggap kematian itu tak perlu dipikirkan dan tak perlu dipesiapkan, hadapi saja saat kematian itu menjemput kita. Apalagi ada yang menganggap kematian itu adalah tempat peristirahatan terakhir dari segala aktivitas dan kepenatan dari hiruk pikuk saat masih hidup di dunia.

Banyak orang tidak ingin mati itu menghapiri mereka, krn mereka tau mati itu tidak menyenangkan sehingga kematian itu tidak mereka harapkan datang begitu cepat. Pahadal mati itu tidak mengenal usia, saat masih bayi, anak2, remaja, dewasa apalagi orang sudah tua pasti mati. Kita masih menganggap mati itu menjemput kita saat sudah tua nanti, maka saat muda puasin hidup dengan sepuas - puasnya tanpa harus memikirkan tentang mati.

Kadang, kita ikut ribut saat ada berita dimedia bahwa TKI diluar negeri divonis hukuman mati krn dituduh melakukan kesalahan dan kejahatan yg melanggar hukum dinegeri orang. Lho, kenapa kita ribut, toh...,kematian itu adalah tidur panjang dari segala kepenatan hidup. Seharusnya, melihat kasus kematian itu biasa saja. Kalau itu kita tanyakan, maka rata2 kita menjawab, ikut prihatin karena sesama anak bangsa dihukum mati dinegeri orang. Kenapa hrs prihatin. .?? Jawabannya macam2, yang intinya kenapa hrs dihukum mati.

Tanpa disadari, semua kita, siapapun kita, sesungguhnya kitapun sudah tervonis mati oleh "Hakim Yang Maha Agung" pencipta manusia itu sendiri. Bersalahkah kita, sehingga harus divonis mati...?? Sudah ada dalam lembaran "catatan dari langit" bahwa setiap yang hidup harus merasakan mati. Jadi suka atau tidak mati itu suatu keharusan.

Kenapa harus divonis mati, padahal belum tentu kita bersalah. Bukankah yang tervinis mati itu sudah melewati sidang gelar perkara, sehingga dapat dibuktikan bahwa seseorang itu wajar divonis mati.

Nah, ini sebaliknya divonis mati dahulu baru disidang. Untuk apa kita dimatikan dahulu, agar kita bisa mengikuti sidang gelar perkara tanpa interpensi siapapun. Tidak ada pengacara, tidak ada bekingan dan tidak ada sogok menyogok utk mempermulus persidangan yang sesuai dengab keinginan kita.

Dalam sidang gelar perkara, dihadapan "Hakim Yang Maha Agung" itu harus kita pertanggung jawabkan semua perbuatan dan tingkah laku selama kita menjalani kehidupan di dunia. Hanya dua atau tiga pertanyaan utama yang akan ditanya dihadapan "Hakim Agung". Pertama, selama hidup kemana saja usiamu dihabiskan. Kedua, kalau punya harta, dari mana harta kamu peroleh dan kemana harta itu kamu habiskan.

Kenapa kita takut dengan mati, bahkan banyak orang berkeinginan jangan mati - mati, biar bisa hidup sampai seribu tahun lagi seperti kata pujangga Kahril Anwar, yang jelas siapapun kita, tidak mau cepat2 mati. Ternyata ada beberapa golongan orang melihat kematian.

1. Orang tidak takut mati, kelompok ini menganggap mati adalah hal biasa. Mati adalah tidur panjang dan tempat peristirahatan dari segala kegiatan setelah menjalani kehidupan. Makanya jangan heran ada orang yang ikut olah raga ekatrim dipuncak2 gedung dan ditepi-tepi jurang, krn mereka tdk takut mati.

2. Orang yang menganggap mati adalah untuk menyelasaikan persoalan hidup. Banyak hutang lalu bunuh diri, prustasi dan kecewa lalu patah hati, kemudian gantung diri. Kematian bagi kelompok ini adalah hanya utk menyelesaikan kesulitan hidup.

3. Orang yang menanti kematian harap2 cemas. Kelompok ini menganggap kematian adalah jalan untuk berjumpa dengan Tuhannya yang memang sangat diinginkan. Sementara mereka juga cemas, apakah mereka bisa berjumpa dengan Tuhannya, sementara amalan/syarat untuk itu cukup dan dapat diterima.

Sebuah kepuasan tersendiri, vonis mati yang diterima bisa lolos dari sangsi dan siksaan. Maka akan menjadi penyesalan yang amat sangat bagi mereka, sudah menerima vonis mati namun harus menjalani siksaan dan sangsi yang amat pedih. Maka, menurut "catatan dari langit" tidak sedikit dari orang2 yang sudah divonis mati, minta dihidupkan kembali agar bisa memperbaiki diri, sehingga vonis mati yang diterima dapat dijalani dengan penuh suka cita.

Bireuen, 12 Juni 2019.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali